Minggu, 20 April 2008

Pertemuan 18


TRITUGAS GEREJA DAN PEJABAT GEREIAWI

Tujuan Ummn 1. Katekumen memahami tritugas gereja dan tugas pejabat gereja.

2. Katekumen memahami bahaya kecenderungan yang ritualistik/

formalistis dalam reja.

3. Katekumen memahami hubungan timbal balik antara ibadah

pemberitaan Injil dan diakonia.

Tujuan Khusus 1. Katekumen berakad tekad untuk berpartisipasi dalam tritugas

gereja.

2. Katekumen dapat menentukan sikap dan berini-siatif atas praktik

bergereja yang tidak memasya-rakat.

PENGANTAR

Di bawah judul ini kita akan membahas secara berturut-turut pokok-pokok sbb:

I. Tritugas gereja

1. Bersekutu (koinonia)

2. Bersaksi (martyria)

3. Melayani (diakonia)

a. Istilah

b. Pengertian dan definisi diakonia

c. Subjek (pelaku) diakonia: Kristus, warga gereja dan gereja

d. Sasaran: sesama warga gereja, sesama yang non Kristen

e. Tujuan diakonia

f. Bentuk-bentuk diakonia

Diakonia karitatif

Diakonia reformatif

Diakonia transformatif

II Pembedaan tugas gereja secara lain: tugas ke dalam dan ke luar (kumpul mencar).

III Hubungan ibadah - pemberitaan - diakonia

IV Masalah: praktik yang berat sebelah

V Pejabat gereja dan tugasnya

I. TRITUGAS GEREJA

1. Bersekutu

Persekutuan jemaat itu harus selalu dibangun. Basis persekutuan jemaat ialah persekutuan setiap warganya dengan Kristus. Persekutuan jemaat maupun antar gereja (oikumene) itu adalah salah satu buah persekutuan orang percaya dengan Kristus. Kita dipanggil supaya selalu memelihara hubungan dengan Kristus. "Allah yang memanggil kamu kepada per­sekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita ..." (1 Kor. 1:9). Bersekutu dengan Kristus berarti juga bersekutu dengan Roh yang memungkinkan ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp. 2:1; 2 Kor. 13:13).

Kita tidak hanya bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Tuhan memanggil supaya kita menjadi terang dan garam dunia (Mat. 5:13-16). Karena itu kita juga harus bersekutu dengan semua orang yang bukan Kristen. Tugas menjadi garam dan terang itu mustahil terlaksana apabila kita terasing dari masyarakat umum. Yesus bergaul dengan semua orang tanpa pandang keyakinan atau agama. Hal itu hendaknya menjadi teladan untuk kita bersikap luwes/supel dengan siapa pun dalam masya­rakat. Dalam hubungan dengan sesama Kristen dan non Kristen kita harus mengembangkan wawasan, sikap dan solidaritas (berbela rasa, senasib sepenanggungan). Keluwesan tanpa solidaritas tidak punya arti! Pidato tentang kasih yang terbaik sekalipun segera menjadi sampan bila tanpa solidaritas!

Kita harus berusaha agar anggota kerasan dalam persekutuan. Mereka tidak kerasan dan terus saja gelisah bila kasih dalam persekutuan itu hanya semu. Kapankah orang kerasan dalam persekutuan? Orang merasa kerasan dalam persekutuan bila persekutuan itu memberi keuntungan bagi dirinya.

Beberapa contoh dari "keuntungan" dalam persekutuan:

Perhatian dan pertolongan pada saat sakit;

Peringatan bagi yang salah;

Dikuatkan bagi yang lemah/frustrasi/ragu-ragu/takut;

Pertolongna fisik (uang, barang) bagi yang miskin;

Pujian bagi yang sukses;

Ucapan selamat pada hari ulang tahun;

Saling menghargai satu sama lain. (Semua orang ingin dihargai. Kata orang, "luwih becik kalah wang, katimbang kalah wong" (bhs. Jawa). Bila ada yang dilecehkan pasti tidak kerasan dalam persekutuan.

Persekutuan jemaat dilakukan dengan banyak cara. Misalnya kebaktian (ibadah), PA (Pemahaman Alkitab), perkunjungan keluarga, penggembalaan dll. Di atas telah disebutkan pentingnya membangun persekutuan dengan masyarakat non Kristen. Karena itu betapa pun nikmatnya persekutuan jemaat,kita harus menjaga agar persekutuan itu tidak berubah menjadi "benteng persembunyian", "tempat pelarian" atau "tempat pengasingan" dari dunia ini.

Hambatan Dalam Bersekutu

Dapat terjadi banyak hambatan dalam membangun persekutuan, antara lain budaya sungkan atau ewuh pakewuh. Rintangan budaya ini populer baik di lingkungan warga/pimpinan jemaat maupun masyarakat. Jarang orang yang mau berterus terang. Akibatnya, tidak ada persekutuan yang sejati, satu sama lain hanya baik secara kulit, tidak secara isi. Bagaimana pemecahannya? Mengacu kepada jemaat pertama (Kis. 2:41-46), kita seharusnya mengembangkan hubungan-hubungan yang makin lugas (=sederhana dan seadanya atau perikara)

2. Bersaksi

Istilah "bersaksi" berasal dari kata "saksi" (kata ini dipinjam dari dunia pengadilan). Saksi ialah orang yang lebih dahulu melihat sesuatu dan meminta orang-orang lain supaya melihat apa yang dilihatnya itu. Itulah saksi yang benar. (Perhatikan bahwa ada saksi-saksi palsu). Istilah "kesaksian" (=marturia) yang kita pakai adalah terjemahan dari "marturein" (bahasa Yunani, bahasa asli PB). Dari kata itu muncul kata "mar­tyr", yaitu orang yang mati syahid. Istilah marturein berhubungan dengan "kerussein" (=pemberitaan). Dari yang terakhir ini lahir kata "kerygma" yang artinya berita. "Marturein" berhubungan dengan "euanggelisesthai" (=pemberitaan kabar gembira) dan "euanggelion" (=kabar gembira karena kedatangan Mesias atau Injil). Dalam bahasa Indonesia kita juga mengenal istilah "evangelisasi", artinya penginjilan.

Berbagai istilah itu dilatar belakangi kebudayaan Romawi. Dalam kerajaan Romawi sering ada pembawa berita kemenangan perang bah­wa suatu wilayah telah ditaklukkan atau berita suka cita lainnya. Utusan yang keliling dengan tugas kerajaan ini disebut bentara. Pengertian itu kemudian "dikristenkan". Dalam Kerajaan Allah ada Injil (=inti berita/kerygma), pemberitaan Injil (kesaksian), pemberita Injil (=saksi, penginjil, bentara).

Sejak zaman PL, Roh Allah, yang adalah Allah sendiri, telah berada dan bekerja di dunia. Dia telah mengeluarkan Israel dari Mesir, telah berkata melalui nabi-nabi, telah memenangkan Daud melawan Goliat dll. Dalam PB, Roh Allah itu kita sebut Roh Kudus. Ketika Yesus dibaptis, Roh itu turun ke dunia (Mrk. 1:9-11). Sejak peristiwa Pentakosta, la telah menumbuhkan gereja yang pertama (Kis. 2:1-13). la juga telah menggerakkan Paulus memberitakan Injil ke banyak negara. Selanjutnya la memimpin semua orang percaya untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia, menyongsong kesempurnaan Kerajaan Allah yang akan terjadi bersamaan dengan kedatangan Kristus yang kedua kelak.

Tugas bersaksi dan kesaksian dari gereja-gereja adalah kesinambungan tugas rasuli. Bersaksi ialah menyaksikan Yesus Kristus baik secara lisan, tulisan dan perbuatan agar orang-orang lain mengenal bahwa Kristus itulah Juruselamat yang dicari orang sepanjang sejarah. Masyarakat mengadakan slametan. Melalui slametan itu orang mencari keselamatan dunia akhirat Apa yang dicari itu sebenamya terdapat pada diri Kristus.

Sasaran kesaksian ini ke dalam (lingkungan warga gereja) dan ke luar (masyarakat). Baik ke dalam maupun ke luar, kesaksian dimaksudkan untuk membawa orang-orang lain mengenal Kristus. Orang Kristen yang benar itu bagaikan akan selalu bersaksi dengan segala cara, dan tidak ada kekuatan yang dapat membungkamnya.

Hal-hal yang perlu kita tolak adalah:

a. Tuduhan Kristenisasi. Bersaksi dan kesaksian bukan kristenisasi. Kristenisasi yaitu rencana untuk menjadikan sejumlah orang menjadi Kristen. Di Indonesia ini tidak pemah dan tidak mungkin ada rencana seperti itu. Kristenisasi adalah isu bohong. Kalau rencana seperti itu memang ada, dari mana saja, bukan hanya pihak lain tetapi kita pun harus menentangnya. Tugas kita hanya bersaksi. Hanya Roh Kudus yang memungkinkan seseorang menjadi Kristen dalam arti mengikuti Kristus.

b. Kita pun juga harus menolak paham yang menyamakan kesaksian dengan penaklukan atau memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus seperti disuarakan gereja-gereja dan gerakan Pentakostal. Paham seperti itu tidak hanya menyakiti masyarakat, tetapi juga tidak memahami Injil Kristus secara utuh. Injil tidak hanya menyelamatkan rohani tetapi menyelamatkan manusia seutuhnya, jasmani-rohani sekaligus.Memang benar bahwa selama ini gereja-gereja hanya memberitakan "kepingan-kepingan" Injil. Misalnya, pemberitaan bahwa Kristus hanya menyalamatkan rohani saja.

Tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa yang terpenting ada­lah rohani atau bahwa yang rohani lebih penting daripada jasmani. Kesaksian atau Pekabaran Injil yang benar berarti menyampaikan Injil yang utuh untuk manusia yang utuh. Injil yang utuh berarti ti­dak hanya mempersoalkan rohani tetapi juga jasmani (kesejahteraan hidup, kemajuan pendidikan, hidup sehat, bertani dengan lebih produktif, maju dalam usaha dll). Manusia yang utuh berarti tumbuh berkembang secara seimbang dalam empat aspek besar: jasmani, mental, spiritual, sosial.

Hak orang Kristen dan jemaat untuk bersaksi dijamin dalam negara Pancasila ini. UUD 1945 pasal 29 ayat 2 menjamin kebebasan beragama. Yang tidak boleh dilupakan, semua usaha memberitakan Injil itu harus dilaksanakan dengan menghormati pihak-pihak lain. Tetapi di sisi lain, kita pun tidak dapat menyetujui pembatasan kebebasan beragama, termasuk pembatasan orang untuk berpindah aga-ma karena keyakinan pribadinya.

3. Melayani (Diakonia)

a. Istilah

Istilah "diakonia" dari bahasa Yunani, artinya pelayanan. Istilah itu berasal dari kata kerja "diakonein" atau "diakoneo", artinya melayani. Orang yang melayani disebut "diakonos" (laki-laki) atau "diakones" (perempuan). Diakonia semula berarti pelayanan seorang budak kepada tuannya di meja makan (Luk. 17:7-10).

b. Pengertian dan Definisi

"Diakonia" mempunyai beberapa arti. Secara umum, kehidupan orang Kristen dan pekerjaan para pejabat gereja juga disebut pelayanan (Ef. 4:12). Paulus menyebut semua pekerjaannya memberitakan Injil itu adalah diakonia (2 Kor. 3:3; 5:18).

Secara khusus, pelayanan berarti pertolongan kepada sesama manusia (2 Kor. 9:1; 8:4; Rm. 15:25). Orang Kristen dan jemaat melayani karena Yesus datang untuk melayani (Mat. 20:28, Mrk. 10:45). Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dan selanjutnya meminta supaya mereka saling membasuh kaki. Artinya, supaya mereka saling melayani (Yoh. 13:14).

Ciri khas orang Kristen dan jemaat ialah melayani. Orang Kristen dan jemaat yang tidak mau melayani adalah sungguh aneh! Murid-murid harus saling mengasihi karena Allah telah terlebib. dahulu mengasihi mereka. Jadi, dasar pelayanan ialah kasih Allah. Kasih itu disebut aga­pe. Agape adalah kasih yang memberi dengan tulus, tanpa pamrih seperti kasih Bapa kepada Kristus (1 Kor. 13:3).

Dalam pertemuan ini diakonia diartikan secara sempit dan dapat dirumuskan sbb:

Diakonia ialah kegiatan mewujudnyatakan kasih kepada orang-orang yang menderita sesuai dengan teladan Kristus sebagai Hamba.

"Mewujudnyatakan"'berarti menjadikan sesuatu yang tidak berwujud menjadi berwujud. Perkataan "kasih" itu tidak berwujud, hanya pikiran/ perkataan. "Kasih" yang tidak itu diwujudkan dengan perbuatan nyata, misalnya:

memberi bantuan bibit tanaman dan pupuk kepada petani;

memberi makanan kepada yang lapar;

bantuan SPP kepada anak-anak putus sekolah.

Dalam 1 Yoh. 4:20 secara tajam disebutkan: "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah', dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya". Wujud nya­ta dari kasih itu sangat penting. Bagi orang yang kelaparan, sebungkus nasi jauh lebih berdayaguna daripada khotbah.

Di dalam masyarakat banyak pelayanan kemanusiaan (filantropi) yang berdasarkan belas kasih perikemanusiaan. Bedanya dengan diakonia adalah bahwa diakonia itu berdasarkan kasih Kristus. Seharusnya kita bersikap kooperatif (bekerjasama) dengan semua pelayanan kema­nusiaan itu (LSM dan lembaga-lembaga lainnya).

c. Subjek (Pelaku) Diakonia

i. Subjek (=pelaku) pertama: Kristus. Artinya, Kristus, melalui Roh Kudus menggerakkan kita dan jemaat supaya menolong sesama manusia. Kristus itu bekerja di dalam kita dan melalui kita menuju kepada sesama. Gereja bertugas supaya meneruskan berkat Kristus itu. "Damai sejahtera bagi kamut Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku sekarang mengutuskamu" (Yah. 20:21).

ii. Subjek kedua: setiap orang percaya dan jemaat. Kita adalah subjek, pelaku yang secara sadar menjalankan diakonia. Sebab kita bukan wayang di tangan dalang atau bukan boneka. Ada hal pertanggungjawaban kita dalam diakonia ini. Apakah kita tanggap (responsif) atau tidak terhadap perintah dan masalah-masalah sesama (=orang-orang yang memerlukan pertolongan) di sekitar kita. Kris­tus itu datang kepada kita melalui sesama (yang terpenjara, lapar, telanjang dll. Sikap kita terhadap sesama sama dengan sikap kita terhadap Kristus (Mat. 25:31-46).

d. Sasaran

i. Sesama Warga Geieja

Warga gereja satu sama lain hendaknya saling memperhatikan dalam kekurangan/penderitaan, yang kuat hendaknya membantu mereka yang lemah. Jurang golongan kaya-miskin dalam jemaat sesungguhnya merupakan hal memalukan dan pertanda bahwa mekanisme saling peduli dan saling menolong ini tidak berjalan nor­mal sebagaimana Kristus kehendaki (bnd. 2 Kor. 8:1-15). Pelayanan sesama warga gereja ini sebenamya hanya merapakan kegiatan yang mengkonkretkan persekutuan jemaat secara nyata.

ii. Sesama manusia dalam masyarakat

Sasaran ini tidak pandang agama, suku dll. Artinya, siapa pun, beragama apa pun, suku apa pun. Sasaran ini sama pentingnya dengan sesama warga gereja. Ketika Yesus menolong orang yang menderita, Dia tidak mempertanyakan apa agama mereka. Tidak benar bila kita menganggap bahwa sesama orang Kristen itu itu lebih penting daripada sesama yang beragama lain. Anggapan yang salah itu mungkin didasarkan pada Gal. 6:10: "... marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman". Ayat ini tidak bepesan supaya kita lebih mengasihi kawan seiman tetapi jangan hanya melayani sesama dalam masyarakat sehingga melupakan saudaranya seiman. Kalau ada pendapat bahwa sesama warga gereja itu lebih penting, pikiran itu bertentangan dengan perintah supaya mengasihi semua orang (Yoh. 3:16).

Paulus, penulis surat Galatia, bukan orang yang sedang bingung. Mengasihi kawan seiman, kapan selesainya? Tidak pernah selesai! Akibatnya, kita tidak bakal bisa mengasihi mereka yang ti­dak seiman. Kalau kasih itu hanya dilaksanakan di antara orang seiman, jemaat akan menjadi kelompok yang mementingkan diri, tidak menjadi berkat bagj masyarakatnya!

Kasih kepada kawan seiman itu menjadi semacam latihan untuk mengasihi mereka yang tidak seiman. Jika di antara kawan seiman saja tidak ada kasih, mustahil jemaat/warganya mengasihi mereka yang tidak seiman? Ayat-ayat lain yang menjelaskan kasih kepada sesama, dunia/masyarakat penting kita pahami, misalnya Yoh. 3:16. Dalam Mat. 25:31-46 disebutkan bahwa Kristus datang kepada kita melalui orang-orang yang menderita. Bila kita melayani mereka, itu berarti kita menyambut Kristus. Sebaliknya bila kita ti­dak menolong mereka, itu berarti menolak Kristus yang datang (Mat. 25:31-46)! Janganlah kita menjadikan agama sebagai alat pemisah dalam kekeluargaan umat manusia. Pelayanan kepada sesama di Iuar gereja ini juga tidak perlu bersyarat: mengenal sasaran. Misalnya pelayanan kepada pengungsi, korban bencana alam, penganggur, korban bencana kelaparan di Afrika dll. Tidak ada syarat mengenal terlebih dahulu pihak sasaran.

e. Tujuan diakonia

Tujuan diakonia ialah penyataan kasih Allah di dalam Kristus kepada orang-orang yang menderita. Tujuan itu bukan untuk menghapuskan penderitaan. Tujuan seperti itu tidak mustahil tercapai, selamanya ada penderitaan karena dosa. Tujuan itu juga bukan untuk mengkristenkan orang-orang. Kita tidak boleh memperalat bantuan atau pertolongan kasih supaya orang tertarik menjadi Kristen.

f. Bentuk-bentuk Diakonia

i. Diakonia karitatif

"Karitatif' berasal dari bahasa Inggris "care" yang artinya memelihara. Diakonia karitatif ialah diakonia atau pelayanan kasih untuk membantu orang-orang yang memerlukan pertolongan dengan barang, uang dll. Misalnya untuk orang-orang sakit, jompo, korban bencana alam, bantuan darah dll.

ii. Diakonia reformatif

"Reformatif' berasal dari bahasa Inggeris "reform", artinya memperbaiki. Diakonia reformatif adalah pelayanan kasih untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi dengan jalan menumbuhkan prakarsa kelompok sasaran. Pelayanan ini juga disebut Pengembangan Masyarakat atau CD (Community Development). Misalnya dengan pelatihan ketrampilan, bimbingan menyelenggarakan koperasi atau UB (Usaha Bersama) Simpan Pinjam, bimbingan pertanian, peternakan, perikanan dll. Diakoni ini tidak memasalahkan ketidak-adilan tetapi biasanya hanya untuk meningkatkan pendapatan.

iii. Diakonia Transformatif

'Transformatif" berasal dari kata transform, bahasa Inggeris, yang artinya mengubah atau membaharui. Pelayanan transformatif dilakukan dengan menganalisa keadaan untuk menemukan akar masalahnya. Akar masalah itu yang ditangani dengan menumbuhkan prakarsa dan partisipasi kelompok sasaran. Berkenaan dengan masalah ketidak adilan, kelompok sasaran disadarkan tentang hak-hak mereka dan memampukan mereka memperjuangkan hak-hak itu. Misalnya, perbaikan peraturan upah buruh yang lebih adil, menuntut agar perusahaan memakai pengolahan limbah, motivasi dan mengorganisasikan masyarakat menentang penggusuran tanah secara sewenang-wenang dll.

II. PEMBEDAAN TUGAS GEREJA SECARA LAIN

Pembagian lain menjadi dua macam saja, yaitu

1. Tugas ke dalam (intern) gereja.

2. Tugas ke luar, yaitu tugas ke tengah masyarakat dll.

Dengan tugas ke dalam dan ke luar ini proses kehidupan gereja itu kumpul-mencar- kumpul-mencar dst. Kegiatan kumpul adalah kegiatan persekutuan (ke dalam) seperti PA, ibadah, kebaktian keluarga, kebaktian kelompok atau blok, peringatan hari raya dst.

Kegiatan mencar ialah penyebaran "ke luar" dari persekutuan di mana warga memasuki "dunia" sehari-hari seperti hidup bertetangga dalam masyarakat, hidup dan bekerja sebagai pegawai kantor, pedagang, pengusaha, buruh dll. Mereka "mencar", hidup dan bekerja dengan iman masing-masing. Di dalam dunia mereka itu semua warga memiliki masalah, pengalaman dan pengalaman iman. Pengalaman iman ini me­reka bawa masuk ke persekutuan (ini gerak kumpul) dan dibagi-bagikan untuk saling menguatkan saudara-saudaranya seiman. Pengalaman lainnya, masalah-masalah dari dunia luar itu dibahas, dikembangkan, dicari titik tolak landasan-landasan teologis untuk mengatasinya bersama de­ngan saudara-saudara seiman. Kita perlu dilatih, dibina, ditrampilkan dalam menghadapi masalah/kesulitan di "dunia" masing-masing. De­ngan membawa masukan dari persekutuan itu kita berpencar kembali.

Demikian proses kumpul mencar ini berlangsung terus menerus dan makin meningkat kadar dan intensitasnya sepanjang kehidupan kita mengikuti Tuhan. Proses itu bagaikan SPIRAL, yaitu gerak maju secara melingkar, tak berujung, bersifat dinamis, menuju kepada kepenuhan Kerajaan Allah.

III. HUBUNGAN IBADAH-PEMBERITAAN-DIAKONIA

Tentang ibadah. Kata "ibadah"berasal dari kata "abodah" atau "avoda" (bahasa Ibrani) yang artinya hasil kerja mencari nafkah atau melaksanakan perintah dari orang-orang Mesir sebagai majikan ketika Israel menjadi budak di sana (Kel. 1:14). Sesudah Israel beribadah di Bait Allah, kegiatan itu juga mereka sebut "ibadah". Dengan demikian mere-ka meng-agama-kan istilah yang sebelumnya murni istilah duniawi.

Dalam PB, ibadah berorientasi kepada tindakan Yesus yang selalu melawan ibadah yang formalitas (serba resmi), legalistis dan ritualistik (asal memenuhi peraturan, mementingkan upacara). Orang merasa dirinya beres kalau ia sudah mengikuti ibadah (=upacara). Tingkah laku di luar ibadah dianggap tidak berhubungan dengan ibadah. Di mata Yesus ibadah seperti itu sia-sia belaka karena mengabaikan kasih sebagai inti agama. Kritik serupa itu telah dilancarkan oleh nabi-nabi pada zaman PL. Misalnya, Amos yang mengatakan bahwa Allah membenci Israel, ibadah mereka sia-sia sebab mengabaikan keadilan (Am. 5: 21). Disebutkan bahwa Allah berdiri di dekat mesbah siap untuk memukul mereka (Am. 9:1-4). Nabi Hosea mengecam ibadah Israel. Disebutkan bahwa sekalipun mereka memberikan korban kambing domba dan lembu tetapi tidak menjumpai Tuhan, mereka berkhianat (Hos. 5:6-7).

Dewasa ini kebanyakan umat Kristen memahami dan mempraktikkan ibadah sebagai ritual (upacara) rohani model Parisi di zaman Yesus. Banyak orang Kristen yang merasa puas bila sudah beribadah di gereja. Sering baik buruknya kekristenan seseorang hanya diukur dari rajin tidaknya beribadah. Usaha penggembalaan juga dimaksudkan agar warga rajin beribadah. Perihal bagaimana tingkah laku di luar ibadah seperti di kantor, dalam masyarakat dianggap tak terjangkau oleh ibadah. Banyak gereja sekarang sedang merohanikan segala urusan dan melaksanakan ibadah menurut seleranya sendiri. Seharusnya ibadah rutin itu berlanjut dengan melayani (=menyatakan kasih secara konkrit) di dalam masyarakat. Kita harus mewaspadai trend (kecenderungan) yang baru ini.

Dalam Pekabaran Injil, kita bersaksi tentang kasih Allah yang menyelamatkan dan suruhan "beritakanlah" kepada setiap orang yang mendengar Injil. (Isi Injil dua macam, yaitu berita keselamatan dan perintah supaya memberitakan Injil itu). Caranya? Dengan bahasa, tulisan, perilaku, kehadiran, film dll. Kegiatan bersaksi adalah kelanjutan dari kegiatan beribadah. Ibadah tanpa kelanjutan itu hanya mementingkan/memuaskan diri

Diakonia sebagai pelayanan kasih yang bersumber dari Kristus merupakan ibadah yang dipraktekkan di luar ruang kebaktian, yaitu di tengah masyarakat Melalui diakonia berita kasih Allah dalam Yesus itu diwujudnyatakan. Tidak hanya bicara tentang kasih tetapi mengasihi secara nyata. Mereka yang lapar tidak membutuhkan khotbah tetapi membutuhkan nasi; mereka yang sakit membutuhkan obat dan bukan ayat-ayat Pengertian ini menuntut agar ibadah, teimasuk khotbah, selalu mengarahkan umat untuk memperhatikan dan melayani, menjumpai mereka yang papa dan menderita dalam masyarakat.

Persoalan yang menarik perhatian dan menuntut jawaban ialah: apakah diakonia atau pelayanan itu harus memakai "bendera Kristen" (merk/sebutan Kristen) atau tidak? Ada dua pendapat berbeda terhadap pertanyaan ini.

1. Pendapat bahwa harus memakai bendera Kristen. Artinya, harus dengan menyebutkan bahwa pelayanan itu dari gereja atau lembaga Kristen. Untuk mendirikan yayasan sosial, mereka yang berpendapat demikian mengharuskan menyebut "Kristen" seperti YAKKUM (Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum), YPKL (Yayasan Pendidikan Kristen Lampung), YPKSS (Yayasan Pendidikan Kristen Sumatera Selatan) dll.

2. Pendapat bahwa pelayanan Kristen dari gereja atau lembaga Kristen tidak perlu memakai bendera Kristen. Demikian juga tidak perlu dicantumkan kata "Kristen" dalam penulisan nama lembaganya. Misalnya Yayasan Purba Danarta, Yayasan Bimbingan Mandiri, Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial dll. dengan alasan bahwa yang terpenting adalah kegiatan melayani dan menghindari tuduhan Kristenisasi dari pihak lain. Tentang pendapat mana yang dianggap tepat dan bijaksana sebaiknya diserahkan kepada gereja dan lembaga yang berkepentingan.

Pekabaran Injil dan diakonia itu dwitunggal. Pekabaran Injil tanpa diakonia, sama dengan omong kosong. Diakonia tanpa pemberitaaan Injil sama dengan usaha-usaha departemen sosial atau LSM kemanusiaan.

IV. MASALAH: PRAKTIK YANG BERAT SEBELAH

Kebanyakan orang Kristen dan gereja melaksanakan tritugas ini secara berat sebelah, yang lebih mementingkan tugas bersekutu. Mementingkan persekutuan berarti mementingkan ritual atau upacara, termasuk kebaktian. Menyanyi sering lebih dipentingkan daripada menolong orang miskin.

Diakonia sering dianggap sebagai tugas tambahan atau sambilan saja. Jumlah Diaken hampir selalu lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah Penatua. Diaken pun banyak yang larut dalam tugas Penatua, mereka lebih banyak memikirkan khotbah daripada memikirkan diakonia. Akhimya, sulit dibedakan mana yang Penatua dan mana yang Diaken. Kita harus mengajak kembali kepada paham yang benar dan praktik yang benar. Diakonia adalah tugas inti gereja. Gereja adalah diakonia, sebab tugas gereja ialah melayani.

Kita harus mendorong agar tritugas gereja ini dilaksanakan secara seimbang: sungguh-sungguh bersekutu, bersaksi, dan melayani! Keseimbangan paham dan pelaksanaan ini harus mengakibatkan keseimbangan dalam program dan pembiayaannya.

V. PEJABAT GEREJA

1. Tiga Macam Jabatan dan Pejabat Gereja dan Tugas-tugasnya

Jabatan

Pejabat

Tugas pokok pejabat

Diakonia

Diaken

1. Bekerjasama dengan penatua dan pendeta membina dan

menggembalakan warga.

2. Merencanakan, mengatur, melaksana kan diakonia bagi warga gereja dan masyarakat. (Talak ayat 66:2).

Penatua

Penatua

1. Bersama dengan diaken dan pendeta membina dan menggembalakan warga.

2. Bersama dengan pendeta menjaga kesesuaian pengajaran

gereja dengan Alkitab. (Talak ayat 66:1).

Pendeta

Pendeta

1. Bersama-sama dengan penatua dan diaken membina

dan menggembalakan warga.

2. Bersama-sama dengan penatua menja­ga pengajaran supaya

sesuai dengan firman Tuhan dan pengajaran GKSBS.

3. Melayani kebaktian.

4. Melayani pemberitaan firman Tuban.

5. Melayani sakramen, sidi, nikah, pertobatan, peneguhan

pejabat.

6. Melayani katekisasi. (Talak ayat 71).

3. Keterangan

a. Tugas pokok para pejabat "membina dan menggembalakan" warga berarti menyadarkan, menggerakkan, mengorganisasikan agar mereka melaksanakan tritugas mereka: bersekutu, bersaksi dan mela­yani (bnd. Ef. 4:12). Para pejabat itulah yang sesungguhnya harus membantu warga. Bukan warga yang membantu mereka karena pekerjaan gereja adalah pekerjaan umat. Karena Allah telah mengaruniakan talenta kepada semua warga gereja.

b. Di samping membina dan menggembalakan warga, para pejabat sendiri harus melakukan tugas mereka sebagai orang beriman. Misalnya, seorang diaken. la harus membina dan menggembalakan warga agar semua warga itu melaksanakan diakonia dengan peduli dan menolong sesamanya, di dalam gereja maupun di luar gereja. Tetapi ia sendiri sebagai orang beriman harus melakukan diakonia itu kepada sesamanya. Jadi, diaken harus menjadi pembina dan pelaku sekaligus. Dengan demikian ia menjadi teladan semua war­ga gerejanya.

B. POKOK-POKOK DISKUSI

1. a. Apakah tugas gereja? Terangkan!

b. Diakonia adalah tugas inti dari gereja. Apa artinya?

2. a. Bagaimanakah gereja Saudara melaksanakan tritugasnya selamaini?

c. b. Bagaimana partisipasi warga dalam kegiatan bergereja selama ini? Terangkan!

3. Bagaimanakah pelaksanaan tugas para pejabat dalam "membina dan menggembalakan " warga selama ini? Adakah tujuan yang jelas? Apa saja masalah-masalah dari pihak warga dan dari pejabat dalam rangka tugas itu? Peran serta apa saja yang dapat Saudara lakukan agar tugas itu terlaksana dengan lebih baik?

4. a. Kehidupan bergereja adalah kumpul mencar dalam gerak bagaikan spiral.

Apa artinya? Terangkan!

b. Bagaimana gerak kumpul mencar ini berlaku di sini? Te­rangkan!

1 komentar:

Wantho Gea mengatakan...

trimksih artikenya yah... Tuhan yesus memberkati.....