Minggu, 20 April 2008

Pertemuan 1


KATEKISASI

Tujuan Umum 1. Memahami bersama tentang apakah katekisasi

2. Katekumen memahami makna sidi.

3. Membicarakan metode katekisasi dan partisipasi aktif dalam setiap

pertemuan

Tujuan khusus 1. Akad tekad katekumen untuk berpartisipasi ak­tif selama

katekisasi.

2. Kesadaran katekumen untuk mengembangkan diri mengejar

kedewasaan Kristen selama dan sesudah katekisasi.

PETUNJUK BAGI KATEKIS

Dalam pertemuan ini sebaiknya Majelis Jemaat mengundang orang tua/wali dari katekumen untuk menghadiri pertemuan pertama ini. Majelis Jemaat pun hendaknya menghadiri pertemuan awal ini untuk memberikan penjelasan dan dorongan-dorongan yang perlu. Sebaiknya kehadiran Majelis tidak diwakilkan kepada katekis ybs. Orang tua/wali tersebut berkepentingan untuk memahami pokok-pokok berikut ini:

1. Apakah katekisasi itu dan bagaimana diselenggarakan?

2. Perlunya dorongan orang tua/wali agar katekumen aktif mengikuti katekisasi.

3. Bahwa katekisasi sebagai pelayanan gereja itu membantu PAK (ajaran Agama Kristen) yang menjadi tanggungjawab orang tua/wali.

4. Bahwa setiap hadir dalam pertemuan katekisasi, katekumen hen­daknya membawa perlengkapan yang perlu seperti Alkitab lengkap, buku nyanyian, alat tulis dan lain-lain.

5. Tempat duduk dalam pertemuan itu hendaknya diatur sating berhadapan supaya semua peserta bertindak aktif (tak ada yang menyembunyikan diri).

2. URAIAN

Istilah "katekisasi" berasal dari kata "katekhein" dalam bahasa Latin yang semula artinya memberitakan sesuatu dengan kewibawaan. Selanjutnya istilah itu berarti belajar.

Apakah katekisasi itu ?

Katekisasi ialah pengajaran agama Kristen yang diselenggarakan oleh gereja untak menolong warga dan colon warganya guna mencapai kedewasaan Kristen sebagai anggota gereja dan masyarakat yang bertanggungjawab dengan mengikuti teladan Kristus.

Beberapa istilah: pengajar katekisasi disebut katekis atau katekhet, muridnya disebut katekisan atau katekumen. Sedangkan proses belajar-mengajar disebut proses kateketis. Dalam buku ini istilah katekis dan katekumen lebih banyak dipakai.

Katekisasi terselenggara berdasarkan perintah Tuhan supaya orang tua mengajar anak-anak mereka. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu" (Ul. 6:6-9).

Perintah ini ditujukan kepada para orang tua. Gereja sebagai "ibu" menyelenggarakan katekisasi untuk membantu pengajaran agama Kris­ten dalam keluarga. Penyelenggaraan katekisasi tidak mengambil alih tugas pengajaran agama dalam keluarga tersebut. Serupa dengan perin­tah itu, dalam Matius 28:19-20 Yesus berkata: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu."

Definisi tentang katekisasi tersebut mengandung beberapa pokok pikiran sebagai berikut:

1. Guru yang sejati ialah Yesus Kristus. Katekis dan katekumen semuanya adalah domba-domba yang harus terus menerus belajar dari Kristus dan tumbuh bersama. Katekis dan katekumen di hadapan Kristus adalah sederajat. Katekis hanya dapat mengajar katekisasi apabila ia tetap menjadi domba Kristus. la tidak membawa katekumen kepada dirinya (seperti begawan dalam pewayangan) melainkan membawa katekumen kepada Kristus.

2. Katekisasi berbeda dengan sekolah. Katekisasi berbeda daripada belajar-mengajar di sekolah. Mengapa? Karena guru yang sebenarnya dalam katekisasi ialah Tuhan Yesus Kristus. Bukan katekis. Katekis dan katekumen adalah murid-murid Yesus yang harus terus saling menolong untuk belajar dari Dia tentang makna kehidupan pribadi maupun jemaat. Jadi katekis iru berbeda dari guru, dan katekumen berbeda dari murid sekolah. Katekis dengan berbagai kelebihannya seperti pengetahuan, pengalaman, pengalaman iman dll. menjadi nara sumber atau sumber utama bagi kelompok yang dilayaninya. Segala kelebihan tsb. menjadi "fasilitas" dalam meng­ajar sehingga katekis berfungsi sebagai fasilitator (=orang yang menyediakan fasilitas).

3. Sumber belajar. Sumber belajar dalam katekisasi ialah Alkitab, buku katekisasi dan buku-buku lain serta pengalaman iman. Kate­kis maupun katekumen adalah orang-orang percaya yang mempunyai pengalaman iman, misalnya mengalami pemeliharaan Tuhan dari kesusahannya seperti miskin, sakit, menghadapi bahaya dll. Katekisasi membuka kesempatan untuk saling tukar pengalaman iman supaya mereka saling menguatkan. Untuk itu katekis dan katekumen diharapkan berpartisipasi aktif. Dengan demikian ke­lompok katekisasi akan berkembang bersama-sama dalam belajar dari Yesus.

4. Tujuan katekisasi. Tujuan katekisasi ialah pendewasaan diri secara Kristiani dari katekumen, baik ia warga jemaat maupun calon warga. Pertumbuhan menjadi dewasa itu merupakan proses seumur hidup. Katekisasi yang sifatnya terbatas itu dimaksudkan untuk membangun dasar-dasar pertumbuhan guna mencapai kedewasa­an itu. Kita harus menghindari pendapat yang salah bahwa kate­kisasi ini sekadar untuk memenuhi persyaratan sidi, menjadi warga gereja penuh atau dapat mengikuti Perjamuan Kudus.

6.5. Secara rinci proses pendewasaan katekumen itu meliputi:

b.a. Makin kuatnya iman pribadi katekumen kepada Kristus, artinya:

i. Makin taat kepada-Nya

ii. Makin berkembang dalam pengetahuan tentang Firman Tuhan

iii. Makin percaya kepada-Nya

iv. Makin berpengharapan kepada-Nya

c.b. Makin bersekutu dengan jemaat

d.c. Makin aktif bersaksi dan melayani masyarakat

e.d. Makin menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai warga gereja yang dewasa

Butir-butir ini berguna sebagai alat deteksi atau instrumen untuk membaca proses pertumbuhan menuju kedewasaan Kristen para kate­kumen.

6. Pendekatan. Pendekatan untuk mencapai tujuan itu dilakukan dengan mengembangkan tiga potensi (=tridaya) kita sebagai manusia, yaitu nalar, perasaan dan karya. Ketiga hal ini merupakan kesatuan. Mustahil seseorang dapat tumbuh dewasa bila ia serba tidak tahu dan tidak mampu menentukan sikap dalam menghadapi situasi dan masalah. Demikian juga bila ia tidak berbuat apapun. Dalam hal terakhir ini katekisasi mengadakan pelatihan mengenai pokok-pokok tertentu. Pelajaran tidak boleh teoritis melulu tetapi juga harus praktis dan memberi peluang mendapatkan pengalaman dari praktik bagi katekumen. Pendekatan yang utuh ini perlu dilakukan. Bila tujuan itu dipersempit menjadi tujuan pengetahuan saja, maka biasanya katekisasi akan menghasilkan warga sidi yang pintar tetapi pasif, yang sering mereka sangat sulit diaktifkan. Kemungkinan itu harus diantisipasi.

7. Bagaimana menjadi Kristen yang dewasa? Menjadi Kristen yang dewasa berarti menjadi warga gereja sekaligus warga masyarakat yang bertanggungjawab, hidup sesuai dengan panggilan Tuhan. Itulah dwi kewargaan kita. Dua hal ini bukan pilihan. Tidak untuk dipilih salah satu. Bahan-bahan pelajaran di sini dimaksudkan sebagai pembekalan untuk memasuki proses pendewasaan itu.

Karena itu upacara sidi dalam ibadah merupakan proklamasi dari yang bersangkutan bahwa ia akan terus tumbuh berkembang menjadi warga gereja sekaligus warga masyarakat yang bertang­gungjawab. Seperti proklamasi kemerdekaan negara dilanjutkan dengan mengisi kemerdekaan, demikian pernyataan sidi dibuktikan dengan menjadi Kristen yang bertanggungjawab dalam gereja dan masyarakat. Masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk dari segi suku, agama, kebudayaan, adat istiadat, politik, ekonomi (kaya / miskin) dll. Tugas dan tanggung jawab menjadi warga masyarakat / negara itu kita pahami dan kita latih bersama melalui katekisasi ini.

8. Penyelenggara katekisasi. Majelis gereja bertanggungjawab menyelenggarakan katekisasi ini. Majelis menugaskan warga gereja yang telah sidi (mengaku percaya) yang dinilai layak dan mampu untuk mengajar katekisasi. Pada akhir katekisasi Majelis akan mengadakan percakapan dengan semua katekumen, sebelum pelaksanaan sidi di tengah ibadah jemaat.

B. POKOK-POKOK DISKUSI

1. Apakah katekisasi itu dan apa tujuannya?

2. Apa yang mendorong Saudara mengikuti katekisasi?

3. Apa artinya sidi atau mengaku percaya itu?

4. Apa saja yang perlu dilakukan oleh orang tua/wali agar anak-anaknya berpartisipasi aktif dalam katekisasi ini?

Pertemuan 2


IMAN KRISTEN

Tujuan umum 1. Katekumen memahami apakah iman dan hidup beriman.

2. Katekumen memahami perbedaan hidup beri­man dan beragama.

Tujuan khusus Akad tekad katekumen dalam menghadapi masalah-masalah

kehidupan.

PENGANTAR

Balian pertemuan ini membahas tentang iman, unsur-unsur, makna bagi orang percaya dan perbedaan antara beriman dengan beragama.

A. URAIAN

I. PENGERTIAN IMAN

Menurut arti katanya, "beriman"herarti "mempunyai iman". Orang yang beriman berarti orang yang mempunyai iman. Tetapi "mempunyai iman " sama sekali berbeda dengan "mempunyai baju" atau benda/alat/harta apa pun yang dapat diperjualbelikan. Mengapa tidak sama? Karena iman menyatu dengan kepribadian seseorang sehingga membentuk watak (sifat), pengharapan, mewarnai dan menjiwai tingkah lakunya.

1. Apakah Iman Itu ?

Iman adalah kepercayaan yang teguh, lahir batin, pengetahuan dan pengakuan saya yang pasti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang telah mengampuni dosa dan mengaruniakan hidup kekal kepada saya. Kepercayaan, pengetahuan itu adalah kebenaran firman Allah sebagai buah karya Roh Kudus dalam hati saya.

Rujukan:

a. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1)

b. "Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibr. 11:3).

c. "dan oleh karena kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma, karena penebusan dalam Kristus Yesus" (Rm. 3:24).

d. "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Rm. 10:10).

e. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Rm. 10:17).

f. "Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena orang yang benar akan hidup oleh iman" (Gal. 3:11).

2. Unsur-unsur Iman

i. Kepercayaan yang teguh. Isinya: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang mengampuni dosa dan menganugerahkan hidup yang kekal kepada saya..

ii. Karya dari Roh Kudus di dalam hati kita yang membuat saya per­caya dengan teguh.

iii. Pengakuan yang lahir dari hati yang sukacita berkat karunia pengampunan dan hidup yang kekal. Isi pengakuan:

s Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.

s Dalam Yesus Kristus tersedia pengampunan dan keselamatan atau hidup yang kekal.

iv. Pengetahuan sebagai salah satu unsur dari iman.

II. MAKNA IMAN BAGI ORANG PERCAYA

1. Iman itu semata-mata buah karya Roh Kudus, Roh Allah sendiri, bukan usaha manusia.

2. Iman itu tertanam dalam hati kita. Hati adalah pusat kepribadian setiap orang. Apa yang dipikirkan, dikatakan, dilakukan bersumber dan mengalir dari hati. Dengan demikian iman melibatkan kepriba­dian kita seutuhnya.

3. Beriman itu mengaku (=bersaksi) bahwa Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat kepada siapa saja. Kesaksian itu terdorong oleh sukacita karena pengampunan dan hidup yang kekal yang telah diterima. Orang yang sukacita mustahil diam membisu tentang hatinya (seperti anak kecil).

4. Beriman berarti mengikuti Yesus Kristus, Allah sejati dan Manusia sejati. Dia bukan hanya Tuhan tetapi juga Manusia, yaitu Manusia yang tanpa dosa. Dia sungguh-sungguh Allah sekaligus sungguh-sungguh manusia. Bukan Allah yang menyamar sebagai manusia tetapi Allah yang menjadi Manusia Dia disebut "Imanuel" atau Allah beserta kita (Mat. 1:23). Kepribadian-Nya unik atau khas, tak ada duanya. Sejak zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang hidup.

"Sebab demi Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan orang Israel, sekalipun itu disebabkan oleh Yonatan, anakku, maka ia pasti akan mati". Tetapi seorangpun dari seluruh rakyat tidak ada yang menjawabnya" (1 Sam. 14:39).

"Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang-orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!" (Mzm. 36:10,11)

Tuhan yang hidup dalam PL itu telah menjadi Manusia di dalam Yesus Kristus. Tuhan itu hidup maka Ia bekerja, memelihara segala ciptaan-Nya, menghukum, memimpin umat-Nya, menjawab doa-doa kita dll 'Tuhan yang hidup" adalah lawan dari yang diper-tuhan, berhala-berhala bisu seperti dikatakan Paulus kepada orang-orang Korintus: "Kamu tahu bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu" (1 Kor. 12:2).

Banyak orang salah kaprah memandang Yesus hanya sebagai Tuhan, mungkin tanpa sadar mereka merendahkan ke-Manusiaan-Nya. Kita mengikuti Yesus tidak hanya mengikuti Allah tetapi juga mengikuti Manusia sejati. Sebagai manusia, la darah dan daging Maryam yang mengandungkan-Nya dari kuasa Roh Kudus, Roh Allah sendiri. Maka la tidak berdosa.

Hanya satu hal itu perbedaan antara kita dan Dia. Kita manusia berdosa sedangkan Dia tidak berdosa. Rasul Paulus bersaksi: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor. 5:21).

Dalam semua hal yang lain sama dengan kita. Dia juga dapat marah, lapar, kecewa dan Lain-lain. Dia juga bertumbuh seperti anak-anak lainnya, seperti disebutkan oleh Lukas "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi Allah dan manusia" (Luk.2:52).

Ia selalu taat, tidak pemah mengingkari kehendak Bapa di sorga karena ketidak berdosaan-Nya. Tetapi kita jangan salah paham! Ketaatan-Nya itu tidaklah terjadi secara otomatis seperti mesin melainkan melalui proses belajar. Tentang hal ini penulis kitab Ibrani berkata: "Dan sekalipun la adalah Anak, la telah belajar menjadi taat dari apayang telah dideritaNya" (Ibr. 5:8).

Karena Dia tidak berdosa itulah maka Dia tidak pernah jatuh. Sedangkan kita walaupun ingin dan berusaha untuk taat dapat jatuh karena dosa kita. Yang kita ikuti atau teladani dari Yesus pun hanya satu hal, yakni ketaatan-Nya kepada Bapa di sorga. Tentang cara berkhotbah, berpakaian, bergaul, makanan kegemaran dll. kita tidak perlu meniru Dia. Keselamatan manusia hanya melalui Yesus. "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4:12 bnd. Yoh. 14:6).

Usaha manusia untuk selamat atau memperoleh hidup kekal sia-sia saja karena semua orang di hadapan Allah tidak benar. "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak" (Rm. 3:10)".

5. Beriman berarti taat kepada Tuhan. Pengertian "beriman" bersifat radikal (sampai keakar-akarnya). Ketaatan orang beriman dapat digambarkan seperti orang melompat di tempat gelap. la tidak mengerti" apakah ia jatuh di tempat enak atau yang mencelakakan. Beriman berarti mau berserah kepada Tuhan, hidup atau mati. Kata

Paulus: "Karena bagiku bidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp. 1:21). Abraham adalah teladan orang beriman. Ketika Tuhan menyuruhnya meninggalkan sanak saudaranya, dari kampung halaman ke tempat tujuan yang tidak diketahuinya, ia menaati (Kej.12).

Yesus menjadi contoh paling sempurna mengenai ketaatan kepada Tuhan. Menjelang ditangkap di taman Getsemani Ia sangat miris, ketakutan. Karena itu Ia berdoa memohon agar Bapa menghindarkan cawan itu berlalu. Cawan merupakan simbol penyiksaan dan hukuman mati yang harus ditanggung-Nya. Kematian merupakan hal paling ditakuti oleh semua orang, termasuk Yesus. Tetapi doa Yesus dilanjutkan dengan "... tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki". Akhirnya Dia taat kepada kehendak Allah Bapa (Mat. 26:39). Dalam segala situasi, kapan saja, di mana saja, di hadapan siapa saja, Dia selalu taat. Ketaatan-Nya kepada Bapa itulah yang kita teladani, supaya kita selalu taat kepada Tuhan.

6. Beriman berarti menyangkal diri dan memikul salib. Orang yang menyanyangi nyawanya berarti kehilangan nyawanya. Kata Yesus:"Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 10:39). Karena itu perkawinan orang Kristen dengan cara mengikuti syahadat lain berarti menyangkal Yesus. Kalau seseorang tidak mau menolong orang lain yang memerlukan pertolongan dengan alasan kuatir karena dirinya sendiri kekurangan, di situ ia memenangkan kepentingan sendiri dan kehendak Tuhan tidak ditaati.

7. Beriman itu radikal (sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung). Dalam semua perkara, orang beriman seharusnya taat kepa­da Allah, betapapun sulit dan berat masalah atau pilihan yang dihadapi. Bahkan sekalipun ketaatannya bertentangan dengan akal budinya, penguasa atau orang banyak.

Apakah ini berarti bahwa akal atau nalar orang beriman itu dipensiunkan? Tidak! Nalar juga anugerah Tuhan yang harus dipakai. Tetapi nalar tidak boleh dimutlakkan. Bila nalar itu menentang Tuhan, orang beriman harus memilih untuk mengikuti Tuhan.

Semua orang ingin berkecukupan (ini nalar). Jalannya ialah bekerja keras (ini wujud ketaatan kepada Tuhan). Apabila seseorang mau hidup enak dengan jalan korupsi, jalan itu melawan Tuhan.

8. Beriman itu mengejar kedewasaan Kristen. Kepribadian orang beriman itu tumbuh dan berkembang. "... sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef. 4:13, bnd. ay. 15). CM kedewasaan adalah sadar, mengerti dan melakukan kehendak Allah {bnd. Mat. 7:21), tidak diombang-ambingkan (=dibingungkan) oleh rupa-rupa pengajaran, permainan palsu dan kelicikan (Ef. 4:14). Hal mengejar kedewasaan ini merupakan proses seumur hidup.

9. Beriman itu tidak sama dengan beragama

Beriman

Beragama

Mengikuti apa dan siapa

Mengikuti Yesus Kristus

(Tuhan dan Manusia Sejati)

Mengikuti agama

Jalan keselamatan

Yesus adalah jalan keselamatan (Yoh. 14:6).

Taat menjalankan peraturan atau syariat dan amal

B. POKOK-POKOK DISKUSI

1. a. Apakah iman itu dan apa saja unsur-unsurnya?

b. Apakah bedanya antara beriman dan beragama?

2. a. Apa saja ciri kedewasaan Kristen seseorang?

b. Bagaimana cara-cara kita mengusahakan kedewasaan Kristen?

3. a. Siapakah Yesus Kristus bagi Saudara?

b. Apa yang kita teladani dari Yesus? Berilah contoh-contoh dari pengalaman Saudara!

4. Tuhan memelihara kehidupan kita. Ceritakanlah pengalaman pribadi tentang

pemeliharaan Tuhan terhadap hidup Saudara!

Pertemuan 3


MENJADI KRISTEN INDONESIA

Tujuanumum 1. Katekumen memahami apa artinya menjadi Kristen Indonesia. 2. Katekumen memahami tentang bagaimana menjadi Kristen

Indonesia. Tujuan khusus 3. Katekumen memiliki akad tekad terhadap masalah-masalah kesatuan bangsa. 4. Katekumen memiliki akad tekad terhadap pembaruan gereja.

PENGANTAR

Bahan pertemuan ini menjelaskan arti menjadi Kristen Indonesia; bagai­mana menjadi Kristen Indonesia itu. Sebagai orang Kristen Indonesia, bagaimana akad tekad (komitmen) kita terhadap masalah-masalah kesa­tuan bangsa dan terhadap pembaruan gereja.

A. URAIAN

I. KRISTEN INDONESIA DAN KRISTEN DI INDONESIA

Banyak orang Kristen dan jemaat yang menyebut dirinya "Kristen di Indonesia". Masyarakat umum juga sering menyebutnya demikian. Sebutan itu memandang Indonesia hanya sebagai tempat, sama dengan Malaysia, Eropa atau Amerika. Apakah Indonesia sekadar tempat bagi orang-orang Kristen? Tidak! Indonesia bukan sekadar tempat bagi kita. Indonesia adalah jati diri kita.

Dalam terang pikiran itu, tepatlah penamaan dan penulisan gereja sebagaimana diatur dalam Tager GKSBS, pasal 2. Penamaan/penulisan nama jemaat setempat ialah GKSBS dan diteruskan dengan nama tempat (desa/kecamatan/kotif/kodya/kota), misalnya GKSBS Metro, GKSBS Tanjungkarang, GKSBS Tulangbawang, dll. Penamaan itu berkaitan dengan tempat dan masyarakat tertentu. QOrang Kristen Indonesia tidak boleh tercerabut dari masyarakat dan bangsanya sehingga menjadi atau dianggap sebagai orang asing di negeri sendiri.

Orang Kristen Indonesia tetap berbudaya Indonesia, menjadi bagian dari masyarakat yang bhineka tunggal ika (majemuk) Indonesia, tetap warga negara Indonesia, tetap ber-Pancasila, tetap mempunyai tradisi kesukuan, dan Merah Putih adalah bendera kita! Kita bukan orang-orang yang menumpang atau kost di negeri orang. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, umat Kristen Indonesia berpartisipasi dalam perjuangan melawan Belanda, Jepang dan penjajah lainnya.

Siapa pun orang yang menjadi Kristen bukanlah orang-orang yang kosong. la lahir dan ditumbuh-dewasakan dengan kebudayaan suku dan bangsanya, iklim kehidupan beragama, sosial politik, sistem ekonomi dll. yang berlaku. la tetap bergumul mengenai tradisi sukunya, kebangsaannya, pergumulan ekonomi, sorotan masyarakat, persoalan hubungan dengan familinya yang bukan Kristen, masalah-masalah keadilan dll. Dengan singkat, orang Kristen Indonesia mengikuti Kristus dan tidak kehilangan jati dirinya. Orang Jawa yang menjadi Kristen, adalah tetap orang Jawa. Demikian seterusnya. Akhirnya, orang Indonesia yang men­jadi Kristen tetap orang Indonesia.

Yesus tidak pernah menghapuskan segala aspek kesukuan,dan kebangsaan itu. Artinya, Dia mempedulikan semua aspek itu. Selanjutnya, kita sebagai orang Kristen Indonesia melihat semua hal yang "membalut" diri kita itu dalam terang Kristus. Perjumpaan kita dengan Kristus atau Injil memperbarui ke-Indonesiaan kita. Artinya, kita tidak perlu bersikap fanatik perihal ke-Indonesiaan dengan menganggap bahwa itulah yang terbaik dari segalanya atau bahwa yang bukan Indonesia itu buruk. Tidak! Untuk menjadi sungguh-sungguh orang Indonesia Kris­ten, kita harus mau mendengar dan belajar dari gereja-gereja lain. Sebab setiap orang Kristen dari mana pun itu satu atau esa. Umat Kristen Indonesia adalah bagian dari umat Kristen sedunia dan sepanjang abad.

Tempat kita menjadi Kristen ialah di dalam masyarakat, bangsa dan negara ini. Tidak di tempat ibadah, gereja atau di dunia lain. Ibadah atau kegiatan gereja lainnya adalah "tempat" atau kesempatan di mana kita bersekutu dengan umat, saling menguatkan dan dikuatkan, menyesali kesalahan, mendengar teguran, pengbiburan dalam terang Firman Tuhan dan menjanjikan ketaatan. Keterlibatan dalam pergumulan ma­syarakat dan tindak mencintai sesama di dalam masyarakat itulah yang menjadi bukti kekristenan seseorang. Gedung gereja semegah apa pun tidak dapat menjadi bukti kekristenan kita! Sayangnya, banyak jemaat rela membangun gedung-gedung megah tetapi tidak rela membiayai pelayanan bagj masyarakat miskin bangsa sendiri.

II. BAGAIMANA CARA KITA MENJADI KRISTEN INDONESIA?

1. Kita menjadi warga masyamrakat yang bertanggung jawab dan bersikap terbuka. Kita menyadari kemajemukan masyarakat dari segi agama, kebudayaan, tradisi dll. tetapi satu (Bhineka Tunggal Ika). Kita ini satu tetapi berbeda-beda, hidup atau mati. Kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat bangsa ini dan hidup bersama dengan masyarakat sampai kiamat nanti. Kalau pihak lain hendak memojokkan atau menyingkirkan kita, dengan tegas kita menolak. Alasan apa pun untuk usaha memecah belah kesatuan masyarakat tidak dapat kita terima. Kita menentang fanatisme apa pun, termasuk fanatisme agama. Yang menyatukan kita dengan semua orang dari golongan mana pun ialah kasih Kristus, sebab Dia mengasihi semua orang (Yoh. 3:16).

Karena itu umat Kristen Indonesia harus bersikap terbuka, bergaul, mengembangkan hubungan dan kerjasama dengan semua golongan masyarakat dan bangsanya. Melalui para pendiri negara ini, kita mengaku bahwa negara kita berdiri karena berkat Tuhan. "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya (Pembukaan UUD 1945, alinea 3). Segala usaha memecah belah itu melawan negara sekaligus melawan Kristus. Kesatuan dan persatuan, kerukunan masyarakat itu punya harga mati!

2. Kita harus mengembangkan wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan inilah yang merekatkan rakyat yang berbeda-beda dari segi agama, suku, budaya menjadi satu bangsa. Proses membangsa (=menjadi satu bangsa yang makin kuat) dan menegara (=menjadi satu negara yang makin kuat) harus kita dukung. Dalam kenyataan, praktik menegara melaju kencang sedangkan proses membangsa berlangsung lambat. Ini kenyataan yang tidak sehat. Kita harus menjaga agar agama tidak dijadikan sumber konflik, perpecahan atau diperalat untuk kepentingan politik oleh golongan mana pun atau penguasa.

3. Kita harus mengembangkan pemikiran kesejarahan. Sejarah mencatat bahwa berdirinya negara ini berkat perjuangan bersama seluruh bangsa, termasuk umat Kristen Indonesia. Kita menerima Injil dari Zendeling Barat tetapi kita juga dengan tegas melawan penjajah. Sejarah mencatat semua itu. Taman Pahlawan di seluruh Tanah Air menjadi saksi. Kesejarahan ini harus masuk dalam kerangka pikir gereja-gereja sebab kita adalah generasi penerus dan kesinambungan dari umat Kristen Indonesia pra kemerdekaan. Kita bukan umat yang baru muncul "kemarin sore". Karena itu umat Kristen bukan warga negara kelas dua, bukan penumpang "kereta Republik" ysng tanpa karcis.

4. Kita mendorong agar jemaat Kristen menjadi jemaat yang terbuka. Dorongan ini perlu agar jemaat tidak menutup diri terhadap masyarakat dan bangsanya dan menjadi gereja-gereja yang memasyarakat. Jemaat yang terbuka juga menggunakan talentanya (ter­masuk keuangannya) untuk pelayanan masyarakat. Bila ada jemaat yang menutup diri dengan berbagai alasan, misalnya merasa diri sebagai umat terpilih, mungkin karena takut terhadap golongan lain, mungkin mengidap perasaan minoritas, kita menolak sikap seperti itu. Pemilihan Allah berarti penugasan Allah supaya umat bersaksi dan melayani. "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat. 28:19). Pemilihan tidak berarti pengasingan. Tidak ada alasan jemaat mana pun untuk merasa super terhadap yang lain. Mustahil kita memberitakan Injil Tuhan sambil menutup diri. Alasan apa pun bagi ketertutupan tidak dapat diterima.

5. Kita membangun hubungan baik dengan masyarakat luas tanpa pandang agama dan perbedaan apa pun. Hubungan yang baik kita dengan semua golongan lain itu minimal. Seharusnya kita mengembangkan kerjasama untuk menjawab masalah dan tantangan bersama seperti kemiskinan, budaya kekerasan, bahaya narkoba, kemerosotan etik moral dll..

6. Kita harus mengembangkan kontekstualisasi iman Kristen. “Kontekstualisasi" berarti usaha untuk menghubungkan iman Kristen dengan kebudayaan suku/bangsa, agama dan modernitas. Nilai-nilai kebenaran Injil itu ternyata sebagian sudah tertanam dalam kebudayaan Timur, termasuk Indonesia. Misalnya, kasih, cinta kepada sesama, wedi asih (takut dan hormat) kepada Allah (Pangeran) dll. adalah nilai-nilai luhur kebudayaan kita. Dengan jalan bagaimana kenyataan itu terjadi, kita tidak mengetahui dengan jelas. Yang jelas hukum Taurat itu tertulis dalam hati setiap orang (Rm. 2:15). Inti hukum Taurat ialah panggilan (=suruhan) agar manusia mengasihi Allah dan sesamanya (Ul. 6:5; Im. 19:18; Mat. 22:37-40). Kenyataan itu mendorong cara kerja a.l. konfrontasi dan konfirmasi dalam usaha kontekstualisasi ini. Konfrontasi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang tidak sesuai dengan Injil dan konfirmasi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang sesuai dengan nilai-nilai Injil Kristus.

B. POKOK-POKOK DISKUSI

1. Apakah arti menjadi Kristen Indonesia?

2. a. Bagaimana sikap kita terhadap kesatuan bangsa, kerukunan antar umat

beragama?

b. Bagaimana pengalaman iman Saudara dalam pergaulan de­ngan umat beragama lain? Apa saja pelajaran dari pengalam­an itu?

3. Bagaimana cara menjadi Kristen Indonesia?

4. Bagaimana sikap Saudara terhadap fanatisme agama?